Friday, 8 March 2013

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?


http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_8459.html?showComment=1362752948627#c3963287642777573632

Menurut Immanuel Kant, matematika akan menjadi ilmu jika dia bersifat sintetik apriori. Maksud dari pernyataan diatas, ilmu itu terdiri dari dua unsure, yaitu pikiran dan pengalaman. Apabila yang ada hanya logika saja maka disebut apriori, logika merupakan suatu pikiran yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman saja disebut aposteriori/ sintetik. Sintetik adalah pengalaman-pengalaman. Supaya ilmu atau pengetahuan yang kita miliki kokoh, maka pengalaman dan logika harus dikombinasikan, yang sering disebut dengan sintetik apriori.  Berdasarkan pernyataan dari Immanuel Kant, matematika akan menjadi Ilmu jika dia dibangun di atas intuisi. hal ini berkaitan dengan peran  intuisi yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. intuisi dalam matematika dapat mempengaruhi dalam pemahaman dan membangun siswa terhadap pembelajaran matematika, karena intuisi pikiran juga akan memegang argumen dan dapat menggabungkan kesimpulan atau keputusan terkait dengan matematika. Matematika harus dibangun melalui intuisi ruang dan waktu yang bersifat sintetik apriori.

Thursday, 7 March 2013

refleksi kelas

TANYA JAWAB 28 FEBRUARI 2013


Dalam mempersiapkan pembelajaran matematika, terdapat dua kategori yang utama, yaitu persiapan umum dan persiapan khusus. Persiapan umum meliputi kajian, penyesuaian paradigma, teori pendidikan, pembelajaran matematika dan implementasinya. Sedangkan dalam persiapan khusus, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti struktur pembelajaran, skema pencapaian, skema interaksi dan skema variasi metode. Salah satu factor yang menentukan terhadap proses pembelajaran adalah skema variasi metode. Guru dituntut untuk tidak hanya terpaku dalam satu metode saja, tetapi harus menerapkan metode yang bervariasi. Skema variasi metode dalam pembelajaran khusus tersebut meliputi metode deduktif dan metode induktif.
Secara garis besar, setiap orang memiliki cara berfikir yang deduktif dan induktif. Dalam matematika murni atau matematika formal/aksiomatik, ada beberapa tahapan dalam menemukan atau memecahkan persoalan. Hal yang pertama dilakukan adalah menetapkan definisi. Selanjutnya, membuat aksioma yang kemudian menjadi teorema. Dengan teorema-teorema baru tersebut, persoalan atau masalah akan dapat dipecahkan. Suatu pemahaman dalam kehidupan sehari-hari bisa disebut sebagai deduksi dan kegiatan menyimpulkan dapat disebut sebagai induksi. Tidak semua teori dalam matematika bersifat deduksi maupun induksi saja. Namun, kedua metode induksi dan metode deduksi saling beriringan dan bersinergi.
Pembelajaran yang inovatif tidak akan pernah menyalahkan suatu keadaan tertentu. Persoalan dalam pembelajaran matematika ada pada guru itu sendiri.  Perbedaan kemampuan/ kecerdasan , psikologi, dan kepribadian siswa menjadi suatu tantangan bagi seorang guru dalam proses pembelajaran. Hendaknya guru mempunyai suatu cara tersendiri untuk mendorong siswa supaya melakukan kegiatan belajar dengan keinginannya sendiri. Salah satu criteria pembelajaran yang inovatif adalah dengan pengembangan  metode yang bervariasi, seperti buku text, internet atau blog, ICT, dan lain-lain. Namun, metode diskusi yang diterapkan guru dalam pembelajaran matematika masih belum sesuai dengan teori yang tepat.
Dunia pendidikan tidak akan terlepas dengan system pendidikan dalam kebijakan pemerintah. Sebagai seorang guru tentunya harus bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan. Seorang guru yang ditugaskan mengajar siswa dikelas, itulah kesempatan emas untuk mewujudkan menjadi guru yang hakiki.  Tentunya, guru juga bisa menjadi guru yang hakiki, dengan harapan siswa-siswanya hakiki sehingga tercipta pembelajaran yang hakiki pula. Dengan demikian, terwujudlah pembelajaran yang inovatif. Komunikasi dalam pembelajaran yang baik meliputi material, formal, normative, dan spiritual. Usaha untuk mengembangkan metode harus mempunyai sifat yang koherensi dan korespondensi( mencocokan dengan kenyataan).
Pengembangan intuisi terhadap siswa SD sangatlah penting. Intuisi merupakan pemahaman atau pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan atau didefinisikan. Intuisi dapat berupa intuisi kata, pikiran, tindakan, dan hati. Jika seseorang melakukan tindakan benar, maka akan memunculkan intuisi tindakan yang benar. Jika kita berpikir dengan benar, maka akan muncul intuisi pikiran yang benar pula. Suatu intuisi diperoleh dari suatu interaksi dalam lingkungannya.  Siswa akan mendapatkan pemahaman yang baik ketika menerapkan komunikasi yang meliputi material, formal, normative, dan spiritual. Suatu contoh yang diberikan pada siswa merupakan suatu definisi. Sehingga, dalam ralistik matematika digolongkan menjadi empat, yaitu matematika kongkrit, matematika model kongkrit, matematika model formal, dan matematika formal.  Model berpikir yang baik meliputi hakikat, metode atau cara, dan etika.
Menurut Immanuel Kant, matematika akan menjadi ilmu jika dia bersifat sintetik apriori. Maksud dari pernyataan diatas, ilmu itu terdiri dari dua unsure, yaitu pikiran dan pengalaman. Apabila yang ada hanya logika saja maka disebut apriori, logika merupakan suatu pikiran yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman saja disebut aposteriori/ sintetik. Sintetik adalah pengalaman-pengalaman. Supaya ilmu atau pengetahuan yang kita miliki kokoh, maka pengalaman dan logika harus dikombinasikan, yang sering disebut dengan sintetik apriori.

Refleksi Elegi Guru Menggapai Perubahan


http://powermathematics.blogspot.com/2009/04/elegi-guru-menggapai-perubahan.html?showComment=1362674273435#c967682784599232232

Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, guru hendaknya melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik lagi terhadap proses pembelajaran pada siswa. Kesadaran dan keinginan dari diri sendiri sangat berpengaruh terhadap pencapaian suatu perubahan menuju makna yang positif, mempunyai arah, dan bermanfaat dalam dunia pendidikan. Perubahan yang pertama dilakukan adalah perubahan dalam memperbaharui motivasi dan niat untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang lebih baik. Guru hendaknya melakukan inovasi dalam pembelajarannya, seperti implementasi beraneka ragam metode ataupun alat peraga, mengembangkan lembar kerja siswa, sumber belajar, teknik pembelajaran, dan keterampilan memecahkan persoalan. Dalam hal itu, guru akan mampu melahirkan metode pembelajaran yang baru sesuai dengan perkembangan teknologi, seperti pemanfaatan internet. Perubahan paradigma pendidikan akan menentukan kualitas dan mutu pendidikan, sehingga perlu adanya perubahan pembelajaran dari yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sehingga siswa bukanlah sebagai objek lagi, namun siswa sebagai subjek dalam proses pembelajaran. Untuk melakukan perubahan, diperlukan kerjasama antara guru, siswa dan pihak yang bersangkutan , sehingga mampu mengimplementasikan masalah-masalah nyata terhadap segala aspek kehidupan. Selain itu, dengan adanya kerja sama, siswa dapat memecahkan masalah secara kelompok, dengan metode diskusi yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Perubahan pendidikan merupakan hal penting yang perlu diperhatikan, agar dunia pendidikan menjadi maju dan lebih berkualitas. Secara umum, guru hendaknya melakukan perubahan dari pembelajaran yang tradisional ke pembelajaran yang modern.

Tuesday, 5 March 2013

REFLEKSI IDENTIFIKASI MASALAH PSIKOLOGI MENGAJAR MATEMATIKA, PSIKOLOGI BELAJAR MATEMATIKA DAN PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA



Dalam pembelajaran matematika, psikologi belajar akan berpengaruh terhadap hasil pendidikannya. Siswa mempunyai beranekaragam kondisi psikologisnya, sehingga respon-respon tiap siswa berbeda-beda dalam pembelajaran. Berkaitan dengan hal itu, kompetensi guru akan dibutuhkan untuk memahami perkembangan psikologi siswa dalam kegiatan belajar. Setiap siswa mempunyai cara berbeda-beda dalam mempelajari matematika dan dengan pengalaman yang berbeda pula, sehingga perbedaan gejala jiwa inilah yang perlu untuk diidentifikasi dalam menunjang pembelajaran matematika. Identifikasi masalah psikologi yang telah diuraikan diatas, sangat penting bagi seorang guru untuk meningkatkan kualitas dalam pembelajaran matematika. Pentingnya identifikasi masalah tentang psikologi dalm pembelajaran matematika, supaya guru ataupun calon guru mampu mambangun psikologi pendidikan matematika dengan memahami karakteristik siswa dalam belajar matematika. Dalam pembelajaran matematika, tentunya siswa membutuhkan motivasi dari gurunya, untuk mewujudkan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik. Pembelajaran matematika juga melibatkan pengalaman masing-masing siswanya untuk dapat memecahkan dan mengaplikasikannya dalam persoalan matematika.  Dengan demikian, seorang guru harus mampu menguasai psikologi pembelajaran dalam mengetahui kemampuan yang dimiliki siswanya, sehinggamenciptakan proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diharapkan.

REFLEKSI METODELOGI PENDIDIKAN



Berdasarkan persoalan-persoalan yang telah diuraikan dalam artikel yang berjudul ” Metodelogi Pendidikan”, tentunya sangat bermanfaat bagi pendidik maupun calon pendidik untuk melakukan perubahan pembelajaran yang lebih baik. Dalam penyelenggaraan pembelajaran yang menyenangkan dan menarik, guru hendaknya mengimplementasikan metode pembelajaran yang bervariasi.  Dalam artikel tersebut kita dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang seringkali menghambat terciptanya pembelajaran matematika yang menyenangkan dan menarik. Adanya identifikasi persoalan-persoalan tersebut akan memotivasi bagi guru maupun para guru maupun calon untuk memperbaiki dalam melaksanakan pembelajaran matematika, sehingga diharapkan akan  tercipta pembelajaran yang inovatif. Dari identifikasi-identifikasi tersebut, guru hendaknya dapat menemukan solusi solusinya, ssehingga solusi dari permasalahan tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian, di dalam pembelajaran matematika akan tercipta pembelajaran yang inovatif dan efektif, dan diharapkan akan meningkatkan kualitas pendidikan.