Sunday, 19 May 2013

Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas


 Dari artikel yang berjudul Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas ini memberikan suatu pandangan tentang keihklasan. Keikhlasan memang mempunyai kadar yang berbeda-beda pada setiap orang. Dari perpincangan orang2 tersebut menunjukan bahwa keikhlasan tidak bisa diukur dengan berdasarkan pada tinggi rendahnya martabat orang, tinggi rendahnya pendidikan. Oleh karena itu, janganlah menyombongkan apa yang tingginya pendidikan atau ilmu yang kita miliki, tanpa adanya rasa keikhlasan yang segala sesuatu itu tidak ada maknanya.

Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis 2


Hal yang paling penting untuk kita tanamkan dalam diri kita adalah rasa ikhlas, seperti yang sudah dibahas dalam ritual ikhlas 2. Dengan keikhlasan tersebut juga sebagai upaya untuk mendapatkan ridho dari Allah. Dengan demikian diharapkan bahwa rasa ikhlas dan niat ini akan menjamin kelancaran kegiatanwalaupun juga perlu dalam membetulkan cara beribadah yang benar, dan beramal atau berZikir seikhlas-ikhlas dan sebanyak-banyaknya.

Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis 2


Hal yang paling penting untuk kita tanamkan dalam diri kita adalah rasa ikhlas, seperti yang sudah dibahas dalam ritual ikhlas 2. Dengan keikhlasan tersebut juga sebagai upaya untuk mendapatkan ridho dari Allah. Dengan demikian diharapkan bahwa rasa ikhlas dan niat ini akan menjamin kelancaran kegiatanwalaupun juga perlu dalam membetulkan cara beribadah yang benar, dan beramal atau berZikir seikhlas-ikhlas dan sebanyak-banyaknya.

Elegi Ritual Ikhlas 2: Persiapan Teknis 1


Dari artikel yang berjudul “Elegi Ritual Ikhlas 2: Persiapan Teknis 1sangat bermanfaat bagi kita dalam rangka menanamkan sikap ikhlas dalam diri kita. Pada hakikatnya Allah memandang semua umatnya dalam keadaan yang sama, tidak membeda-bedakan pangkat, derajat, golongan maupun jenis kelamin. Yang membedakan  derajat kita terletak pada keikhlasan yang ada pada diri kita. Sehingga rasa ikhlas yang ada dalam diri kita, perlu adanya ketentuan demi suatu kelancaran kegiatan apapun. Ketentuan tersebut ada 2 hal, ketentuan khusus berupa tatacara yang sesuai dengan sumber-sumbernya, dan ketentuan umum meliputi kelancaran dan ketertibannya.rasa ikhlas juga akan mendorong kita untuk lebih focus terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan dilandasi rasa ikhlaslah, kita dapat belajar dengan optimal, dengan mengurangi kebbutuhan yang tidak penting.

Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-ritual-ikhlas-i-informasi-awal.html#comment-formBerdasarkan artikel yang berjudul “Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal” ini, dapat diambil suatu kesimpulan segala sesuatu kegiatan harus dilakukan dengan rasa ikhlas. Begitu juga dalam mencari ilmu. Proses dalam mencari ilmu itu harus dilandasi dengan keikhlasan. Rasa ikhlas yang harus timbul dari hati diri sendiri. Segala suatu kegiatan pun akan berjalan dengan baik, ketika kita melakukan persiapan terlebih dahulu. Tidak berbeda jauh juga pada proses mencari ilmu, yang tentunya juga  membutuhkan suatu persiapan tertentu. Jadi dengan berlandaskan keikhlasan dalam melakukan kegiatan apapun akan membuka kesempatan kita atau sebagai wahana dalam mencapai tujuan. Dari artikel tersebut dapat kita ambil nasehatnya bahwa dalam kita belajarpun harus dengan ikhlas, berusaha semampunya dengan ikhlas dengan diimbangi dengan ketaatan beribadah yang baik. oleh karena itu, dalam menghadapi dinamika kehidupan, kita perlu dilandasi rasa ikhlas dalam melakukan kegiatan apapun.

Refleksi Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)


Berdasarkan uraian yang berjudul Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1) ini, secara garis besar dapat disimpulkan pendidikan matematika mempunyai beberapa tahapan. Dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, kemampuan berpikir peserta didik. Salah satunya matematika sebagai formal abstrak. Model matematika ini merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri, walaupun masih dengan bantuan dosen.
Pembelajaran matematika menurut hakekat konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi, sehingga dengan konsep atau prinsip itu akan terbangun kembali transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep atas prinsip baru.
Sedangkan pembelajaran matematika yang sesuai diterapkan pada siswa Sekolah Dasar adalah matematika sekolah. Matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa, serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa. Model matematika sekolah ini mempunyai karakteristik bahwa kemampuan berpikir siswa Sekolah Dasar masih dalam tahap operasional konkrit, maka untuk memahami konsep dan prinsip masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkrit.